Skip to content

Tips Memulai Usaha Makanan Ringan

featured-img

Di tahun 2018 lalu menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Ngurah Puspayoga memberikan kabar baik loh. Ternyata di bawah kepemimpinan presiden Joko Widodo jumlah entrepreneur di indonesia sudah tumbuh menjadi lebih dari 7% total penduduk Indonesia.

Meski angka tersebut masih di bawah banyak negara-negara di dunia, kita patut berbangga. Berarti ada tren yang berubah dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini menurut kami disebabkan oleh banyaknya kemudahan yang bisa didapatkan oleh para calon entrepreneur, sehingga banyak orang yang mulai mencoba usaha kecil-kecilannya sendiri. Salah satu yang banyak dicoba dalam hal ini adalah usaha makanan ringan!

Indonesia yang terkenal dengan beragam kuliner dan camilannya, dimanfaatkan oleh anak-anak muda kita yang berjiwa entrepreneur. Barangkali termasuk kamu, kalau kamu gak tertarik mencari tips memulai usaha makanan ringan ini mana mungkin kamu ada di artikel ini.

Gak usah berlama-lama deh, kita akan coba bagi buat kamu beberapa tips memulai usaha makanan ringan yang bisa dijalankan sendiri.


Kenapa Harus Makanan Ringan?

Zanana berbagai rasa

Pertanyaan simpel namun pasti banyak ditanyakan orang-orang yang mau memulai usaha makanan ringannya sendiri.

Jawabannya jelas, karena Indonesia merupakan negara kaya budaya dan kaya sumber daya. Otomatis seorang entrepreneur makanan ringan bisa berinovasi dengan kemungkinan yang nyaris tidak terbatas.

Banyaknya saingan dalam hal ini bukan hambatan, karena jenis makanan ringan yang dijual bisa jadi berbeda-beda. Malahan, kamu barangkali bisa saling belajar kepada para entrepreneur makanan ringan lainnya.

Dari sini otomatis, bisnis makanan ringan boleh dibilang merupakan bisnis yang menggiurkan di Indonesia. Gak percaya?

Sebut saja Top Itiphat, pemuda maniak game pembuat Tao Kae Noi yang saat ini omzetnya miliaran. Top berusaha dari nol loh, jadi gak ada alasan buat kamu kalau saat ini belum punya modal apa-apa.

Lidi geli

Di Indonesia ada Yana Hawi Aripin dengan Keripik Pedas Karuhun-nya, Reza Nurhilman dengan Keripik Pedas Maicih-nya, Ali Muharam dengan Makaroni Ngehe-nya, Famela Nurul Islami dengan Mie Lidi Geli-nya, hingga pak Joko Mogoginta si pemilik Taro yang berawal dari bisnis keluarga “saja”.

Duh kalo lihat orang-orang itu, kebanyakan masih berusia muda loh. Rata-rata juga berawal dari nol alias nyaris tanpa modal. Alasan apalagi yang mau kamu pakai untuk enggak memulai usaha makanan ringanmu sendiri?

Cek juga: Tips berbisnis di online shop untuk 2019


Belajar Menjadi Entrepreneur Sejati

Sebelum kamu baca tips memulai usaha makanan ringan yang bersifat teknis, kami mau mengajarkan beberapa hal penting. Terutama bagi kamu yang benar-benar sedang merintis jalan menjadi seorang entrepreneur sejati.

Sandiaga Uno interview

Nilai pertama yang harus kamu tanamkan di dalam dirimu adalah jangan pernah memikirkan untung rugi di awal-awal usaha. Kalau kamu gak yakin bacalah cerita-cerita pengusaha di atas, atau yang terkenal misalnya cerita Gazan Azka Ghafara si pemilik Zanana.

Hampir semua bisnis besar pasti mengeluarkan modal yang besar di awal, banyak menemui kegagalan, namun selalu menemukan bangkitnya di awal. Yang kamu butuhkan di awal bukan hanya modal, tapi juga semangat yang tinggi!

Banyak calon pengusaha gagal justru di awal, ketika menemukan hambatannya belum-belum sudah menyerah. Wah gimana mau jadi pengusaha makanan ringan sukses kalau di awal aja banyak menyerah.

Cek juga: tentang bisnis kopi dan tips memulainya

Nilai yang kedua adalah jangan pernah malu meminta masukan dari orang lain. Di awal-awal bisnismu, buatlah camilan murah tanpa kemasan dan merk yang mewah (itu bisa dipikirkan belakangan, serius!)

Coba berikan secara gratis ataupun murah kepada orang-orang terdekatmu, teman-teman mu. Mintalah banyak-banyak masukan dari mereka. Catat dan selalu lakukan evaluasi dan modifikasi terhadap barang daganganmu.

Nilai ketiga adalah jangan pernah berhenti berinovasi. Kamu gak boleh cepat bosan dalam berbisnis, karena pasarmu adalah manusia maka mereka adalah satu-satunya yang boleh bosan. Mereka boleh bosan dengan produkmu, kemasan produkmu, brand mu.

Satu-satunya hal yang boleh kamu lakukan terhadap hal ini adalah dengan terus bergerak maju, banyak-banyak melakukan evaluasi serta melakukan inovasi yang gak henti-hentinya. Dengan begitu para pelangganmu tidak akan pernah kebosanan!

Nilai keempat yang harus kamu tanamkan kepada dirimu adalah banyak-banyak belajar hal di luar bidangmu. Seorang entrepreneur bisa saja memiliki profesi dokter, profesi arsitek, polisi, atau bahkan wanita karir.

Kamu harus banyak-banyak belajar hal di luar bidang kerja “asli”mu. Atau kalau kamu masih SMA sekalipun. Banyak-banyaklah membaca buku-buku tentang strategi pemasaran, cara mengembangkan produk, cara mengembangkan brand, dan semacamnya.

Dengan memiliki kemampuan dasar tersebut, kamu diharapkan bisa menyelesaikan berbagai masalah yang kelak akan ditemui ketika kamu memulai usaha makanan ringanmu. Biar gak pusing-pusing deh.

Nah terkait hal ini pula, sebisa mungkin kamu harus punya mentor bisnis yang memiliki bidang bisnis serupa dengan bisnismu. Kalau terlalu sulit, seenggaknya carilah teman dekatmu yang pernah berbisnis juga, mintalah banyak-banyak nasihat dari mereka.

Inti dari nilai terakhir ini sebenarnya jangan pernah malu untuk belajar dan bertanya. Dengan banyak belajar dan bertanya ilmu yang kamu miliki akan semakin lengkap dan tentu kamu akan semakin siap dengan bisnismu sendiri.

Sekarang kamu sudah siap, saatnya kita bahas tips memulai usaha makanan ringan yang bersifat teknis!


Lakukan Riset Produk dan Riset Pasar

Riset produk dan riset pasar

Kalau kamu mengitkuti artikel tips-tips memulai usaha dari kami, pasti kamu sadar kalau langkah pertama yang wajib dilakukan dalam memulai usaha apapun adalah riset, riset, dan riset! Riset begitu penting karena akan menentukan perjalanan usahamu nantinya.

Pertama-tama lakukanlah riset produk dengan cermat. Tentukan makanan ringan apa yang ingin kamu jual. Kamu harus mendapatkan akses penuh dan mudah terhadap produk yang ingin kamu jual nantinya.

Kalau kamu mau jual makanan ringan berbahan dasar singkong, tentu saja kamu harus mencari pemasok singkong yang memiliki harga relatif miring namun dengan kualitas yang baik. Jangan sampai kamu membuat produk yang kamu tidak tahu dimana harus mencari pemasok bahan dasarnya.

Selain itu kamu juga harus banyak belajar mengenai pengolahan bahan dasar camilanmu, banyak-banyak belajar kepada ahlinya atau belajar di internet! Lalu kembangkan milikmu sendiri. Pastikan juga camilan-camilan percobaanmu itu mendapatkan komentar dari orang lain yang gak terkait bisnismu, supaya penilaiannya objektif.

Jangan lupa setelah menentukan produknya, lihat sainganmu. Kalau sainganmu besar, pilihanmu ada dua. Mencari alternatif produk atau hajar terus kalau kamu memang yakin produkmu lebih baik dari produk sainganmu. Artinya kamu berencana bermain pada pasar yang sama.

Nah ngomong-ngomong soal pasar, kamu juga harus bisa menentukan pasar potensialmu. Target pasarmu jangan cuma berdasarkan wilayah saja, misalnya kamu ingin menjual kripik singkong (yang tadi) kepada orang-orang di daerah Jakarta Timur. Wah simpel banget, padahal kamu harus menentukan calon pembelimu dengan detil.

Misalnya kamu ingin calon pembelimu laki-laki dan perempuan berusia 20 tahun hingga 35 tahun (usia kuliah hingga perkantoran). Dari sini kamu akan membuat penyesuaian kembali terkait produkmu, misalnya terkait rasa, pengolahan camilan, hingga kemasan dan merk nya.

Kalau kamu bingung, lakukan saran kita di atas. Jual produkmu secara murah atau gratis (jangan pikirkan untung rugi!) selama beberapa bulan awal, kepada orang-orang terdekatmu yang sesuai dengan target pasarmu. Kemudian minta banyak masukan dari mereka.

Masukan-masukan itulah yang nantinya akan menjadi penyesuaian terhadap produk dan kemasan produkmu. Harapannya setelah launching besar-besaran produkmu akan langsung menyasar kepada calon targetmu.


Bisnis Makanan adalah Bisnis Kualitas, Mutu, dan Kesehatan

pembuatan keripik singkong

Di era informasi dan keterbukaan seperti sekarang ini, orang semakin banyak yang melek ilmu pengetahuan. Banyak orang yang semakin peduli terhadap apa yang mereka makan, jadi kamu gak bisa sembarangan membuat produk makanan ringanmu asal-asalan.

Dalam memproduksi makanan ringanmu sendiri, kamu harus memastikan bahwa bahan-bahan yang digunakan adalah bahan-bahan yang sehat dan tentunya halal. Kehalalan juga menjadi penting mengingat muslim merupakan pasar yang potensial di Indonesia.

Selain bahan yang sehat, kamu juga wajib memastikan bahan dasar yang kamu gunakan adalah bahan dasar yang berkualitas tinggi. Dengan demikian hasil produk akhir yang dibuat pun akan menjadi produk berkualitas tinggi.

Sementara terkait mutu, kamu harus menjaga mutu di tempat produksimu. Musuh utama pabrik makanan adalah hewan-hewan seperti kecoak dan tikus.

produksi makanan di dapur

Kalau kamu belum punya cukup modal, kamu bisa membuat tempatmu sebersih mungkin, dan melakukan pengecekan berkala secara manual di tempat-tempat tertentu yang lembab dan gelap di pabrikmu.

Tapi kalau usahamu sudah berkembang dan kamu sudah benar-benar bisa membuat pabrik (walaupun berskala kecil), kami rasa sih kamu wajib menggunakan jasa pihak ketiga. Banyak kok pihak-pihak yang memberikan jasa perlindungan terhadap gangguan-gangguan semacam ini.

Terakhir pastikan jumlah makananmu benar-benar konsisten. Buatlah sesempurna mungkin walaupun terdengar sulit.

Intinya sih di zaman sekarang, produk makanan ringan bisa terkenal maupun hancur dengan cepat. Apalagi kalau makanan ringanmu sampai ke tangan-tangan vlogger pecinta makanan. Wah wah nasib bisnismu benar-benar dipertaruhkan loh disana!

Jangan pernah mencoba-coba membayar mereka untuk memberikan review bagus. Tapi berikanlah konsumenmu makanan yang terbaik, maka secara otomatis orang-orang akan cepat mengenal makananmu!

       Cek juga: Pilihan ide bisnis yang menjanjikan di 2019


Lakukan Strategi Branding dan Pemasaran yang Mutakhir

Banner Iklan Big Mac

Langkah terakhir ini amat terkait dengan target pasarmu, sebagaimana yang kami jelaskan di awal. Terutama erat kaitannya dengan branding produk milikmu.

Kalau kamu memilih menjual kepada orang-orang usia muda maka kamu bisa “lebih bebas” dalam melakukan branding produk, memilih warna, hingga mendesain kemasan. Karena anak-anak muda memang lebih tertarik dengan produk-produk yang cenderung “wah”.

Tapi kamu juga boleh loh membuat image produkmu sebagai produk yang mewah. Misalnya dengan membuat kemasan yang tampak mahal, baik dari segi desain hingga warna. Selain itu kamu juga bisa banyak bereksperimen dengan logo brand mu.

Intinya sih seputar brand kamu memang bisa membuatnya sesuka hatimu, bahkan beberapa entrepreneur beranggapan bahwa seringkali brand bisa dibuat ulang, jadi di awal kamu bebas membuat brand tersebut dan lebih fokus ke penjualan.

Nah sementara itu berfokus ke penjualan berarti kamu harus banyak-banyak belajar mengenai teknik pemasaran alias marketing. Kamu bisa menjual produkmu secara langsung melalui e-commerce ataupun mendistribusikan produkmu ke ritel-ritel di tempatmu.

Kalau kamu menjual produk secara langsung, berarti kamu menganut model bisnis B2C alias business to client, sementara menjual ke ritel berarti menganut model bisnis B2B alias business to business.

Kamu bebas memilih yang manapun yang kamu suka, karena di bisnis ini baik B2B ataupun B2C keduanya membutuhkan branding yang sama-sama baik. Sedikit berbeda dengan bisnis lain, bisnis konveksi dan seputar pakaian misalnya.

Nah itulah beberapa tips yang bisa kami bagikan untuk kamu. Emang keliatan ngawang-ngawang sih, tapi kebanyakan mentor bisnis kami yakin deh pasti akan mengajarkan hal yang sama. Tapi dari semua itu,yang terpenting adalah mulai dari sekarang juga. Yuk ah!

Tags